Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dunia adalah ladang amal menuju akhirat


Seorang Juragan Kapal memanggil Tukang Cat untuk mengecat salah satu perahunya. Bahan cat sudah disiapkan. Segera Tukang Cat melaksanakan tugasnya. Sementara Tukang Cat bekerja, Juragan Kapal berangkat keluar kota untuk sebuah urusan.

Esok hari, sepulang sekolah anak-anak Juragan Kapal melihat ada satu perahu yang bagus di dekat rumah pantainya, langsung dibawa menghambur ke laut dengan membawa peralatan pancingnya. Tidak lama, Juragan Kapal pun tiba di rumah. Mendapati perahu yang kemarin dicat itu dibawa anak-anaknya ke laut, seketika Juragan Kapal panik. Apa yang dia khawatirkan sepanjang jalan seolah terjawab.

Juragan Kapal tahu, perahu itu kondisinya bocor. Sengaja tidak dia tugaskan ke Tukang Cat karena belum sempat beli bahan. Disamping itu, dia ingin kebocorannya itu ditangani oleh ahli perahu langgannya, bukan tukang cat. Seketika penyesalan menyergapnya. Segera Juragan kapal perintahkan semua anak buahnya untuk turun ke laut mencari anaknya. Belasan orang kampung pantai juga serta merta turut menghambur ke perahunya masing-masing. 

Belum lama berselang, seiring dengan langit barat yang makin memerah, nampak dikejauhan anak-anak dengan perahunya sedang menuju ke pantai.  Sejenak tertegun dengan tatapan mata orang-orang yang memandang keheranan, tapi kemudian mereka melanjutkan berkemas dan pulang, 

Juragan Kapal tanpa pikir panjang segera memeriksa perahunya. Ternyata perahu tersebut sudah ditambal dengan kuat dan rapi oleh Tukang Cat. Juragan Kapal (JK) pun memanggil Tukang Cat (TC).

JK: Aku kemarin tidak menyediakan bahan untuk menambal cat, kamu dapat dari mana bahan itu?
TC: Saya cari di toko dan beli dengan uang saya sendiri.
JK: Upahmu mengecat perahu bisa habis untuk beli bahan-bahan itu.
TC: Masih ada sisa, dan itu sudah cukup.
JK: Tahukah bahwa kamu telah menyelematkan anak-anak ku.
 TC: Allah yang telah menyelamatkan mereka.
JK: Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu.
TC:  Saya tidak mengharap balasan Bapak, saya bekerja hanya mengharap ridlo dari Allah.

Dunia adalah ladang amal. Tidak harus menjadi kyai atau ustadz untuk mendapatkan ridlo dari Allah. Tidak harus menjadi pejabat, pengusaha, atau orang penting untuk bisa berarti bagi orang lain. Meski tukang cat, bisa jadi maqomnya jauh lebih mulia ketika amalannya diniatkan untuk mengharap ridlo Allah. Demikian juga profesi lain, pegawai, pejabat, politisi, tentara, teknisi, insinyur,  dokter, ibu rumah tangga, pedagang, wiraswasta, guru, dan sebagainya. 
Semoga bermanfaat. 

Posting Komentar untuk "Dunia adalah ladang amal menuju akhirat"