Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sepenggal drama para pejabat dalam sebuah rapat


Suatu pagi di Kantor Pemerintah Kabupaten Anbe, aula utama dipenuhi para pejabat. Mereka sedang membahas rencana program kemiskinan. Mereka terlihat serius di depan laptopnya masing-masing. Suasana hening beberapa saat, sebelum akhirnya pecah oleh suara Kadis Sosial yang telah menampilkan isi laptopnya ke layar.

"Ini peta kantung-kantung kemiskinan di wilayah kita, Pak", berkata Kadis Sosial sambil menunjuk tayangan peta di layar LCD proyektor. "Seperti kita ketahui," dia melanjutkan, "Angka kemiskinan kita masih 256 ribu jiwa,  jadi ada 11,35 persen". 

Mata kepala daerah tampak serius menelusuri titik-titik merah  yang tersebar pada tayangan peta. "Kalau yang berada di pesisir ini kemungkinan masyarakat nelayan atau petambak. Nanti kita cek. Kita fokus dulu ke titik-titik merah yang di daerah hulu dan tengah ini. Mohon Pak Kadispertan, menayangkan peta sawah kita!" pinta Kepala Daerah.  

Tak lama kemudian, gambar poligon berwarna kuning tersebar di tayangan peta. "Yang kuning ini tanaman pangan ya?" tanya Kepala Daerah. 

"Betul, Pak" Jawab Kadispertan. "Kantung kemiskinan memang terbesar di sektor pertanian dan perkebunan. Angkanya mencapai 71,43 persen." lanjutnya. 

Kepala daerah mengernyitkan kening. "Mohon ditambahkan Peta Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas, Pak Kadis!". 

Bergegas Kadispertan memainkan jemari diatas laptopnya. Tak lama kemudian muncul poligon-poligon biru dan hijau dalam beberapa variasi intensitas warna.

"Warna biru dan hijau itu untuk parameter apa, Pak?" Tanya Kepala daerah. 

"Warna biru artinya IP sedangkan hijau sebagai produktivitas. IP terendah warna biru muda, artinya IP 150 atau hanya satu setengah kali tanam dalam setahun. IP tertinggi 300 keatas,  direpresentasikan warna biru yang paling tua." Kadispertan melanjutkan, "Produktivitas tanam, dimulai dari hijau muda pada kisaran 3,5 - 4 ton/ ha, hingga hijau paling tua artinya produktivitas tertinggi, di atas 8 ton/ ha, Pak

Kepala daerah kembali mengernyitkan kening. "Mengapa IP bisa begitu rendah? Padahal tidak jauh dari situ IP 250 bahkan 300? "

Kadis PU Pengairan yang dari tadi mengamati kini angkat bicara, "Di daerah itu sering terjadi banjir. Kami sudah lama berkomunikasi dengan provinsi yang punya kewenangan, tapi katanya masih dalam proses kajian. Musim kemarau pertama air jauh berkurang".

"Ya.. Bisa dipahami, mengapa IP mereka rendah," ucap kepala daerah sambil manggut-manggut dengan mimik muka serius. Lanjutnya, "Jalin terus komunikasi yang baik dengan provinsi, supaya daerah kita tidak dikesampingkan terus."

"Baik, Pak." Jawab Kadis PU Pengairan. 

"Tapi yang aneh, itu ada titik merah yang berada di poligon IP 250 dan produktivitas juga tinggi, sampai 7 ton per ha. Bagaimana bisa, di daerah subur begitu banyak orang miskin? " Kepala daerah berpikir keras

"Kalau di daerah itu, tenaga kerja sangat mahal Pak", Kadisnaker tiba-tiba menyahut sembari bangkit dan menunjuk titik-titik merah yang dimaksud kepala daerah. 

Mata kepala daerah seketika berbinar, "Mohon Pak Kadispertan menayangkan peta sebaran alat mesin pertanian (alsintan) atau UPJA (Unit Pelayanan Jasa Alsintan) kita.

Beberapa detik kemudian, "Nah kan, Bapak Ibu bisa lihat. Mereka kesulitan akses ke alsintan, makanya hasil panen habis buat bayar tenaga kerja.Terlalu jauh untuk mendapatkan layanan jasa alsintan," berkata kepala daerah sambil memberi tanda jari ke tayangan peta. "Tapi sepertinya ada yang lebih parah, nih," kepala daerah melanjutkan, "Pak Kadis Pengairan dan Kadis Bina Marga, mohon tayangkan peta jaringan irigasi dan peta jaringan jalan."

Beberapa detik kemudian, terlihat garis-garis warna merah dan biru bertebaran di atas peta. Kembali kepala daerah mengernyit, "Mengapa mereka tidak mendapatkan layanan irigasi dan jaringan jalan?" Tanya kepala daerah sedikit keras. 

Kadis Pengairan buru-buru menjawab, "Medan terlalu sulit Pak, dan lokasinya  sangat jauh. Setelah kami lakukan studi kelayakan, beberapa indikator menunjukkan tidak layak. Proyeksi hasil pertanian masih jauh dibawah ekspektasi". 

Kadis Bina Marga menimpali, "Betul, Pak. Kegiatan ekonomi sangat minim. Proyeksi pertumbuhan ekonomi sampai 20 tahun tetap di bawah ROI (Return of Investment). Beban APBD terlalu besar, Pak."

Kepala Daerah mulai mereda ketegangannya dan dengan tenang berkata, "Baik lah. Saya paham apa yang Bapak Ibu risaukan. Perlu saya jelaskan, bahwa pembangunan daerah tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata. Pertumbuhan yang tinggi akan terlihat seolah pembangunan daerah sangat maju pesat. Menarik memang. Selama tidak ada warga yang ditinggalkan dalam percepatan ini". Sambil memperbaiki duduknya Kepala Daerah melanjutkan, "Ibarat menggoreng telur, jangan buru-buru ingin segera matang kemudian api dibesarkan maksimal. Karena bisa berakibat, telur akan terlihat matang di luar, padahal di dalam masih mentah." 

"Betuul!" semua peserta rapat kontak berseru.

"Kita cek apakah benar ini warga kita." Kepala daerah menengok ke Kadis Sosial sambil berkata, "Pak, mohon ditampilkan data kepemilikan lahan!"

Beberapa detik kemudian, poligon-poligon kecil warna oranye tersebar pada peta tertayang. Kepala daerah coba menebak, "Warna oranye menunjukkan kepemilikan tanah oleh orang dari luar wilayah?

"Betul Pak", jawab Kadis Sosial tegas.  

"Nah, tepat dugaanku!" kata kepala daerah bersemangat. Lanjutnya, "Daerah-daerah minus begini tidak akan dilirik investor. Lihat lokasi-lokasi yang hijau dan biru ini! Ternyata banyak poligon oranye disana. Saya yakin, itu orang-orang kaya dari ibukota yang punya tanah-tanah yang luas. Mereka sudah menikmati pelayanan irigasi dan akses jalan selama ini. Pastikan mereka menunaikan kewajibannya, baik pajak daerah maupun iuran ke P3A!" 

"Baik, Pak!" Jawab semua peserta rapat hampir bersamaan. 

Kepala daerah menutup pembicaraan, "Rapat program kemiskinan di sektor pertanian tanaman pangan kita tutup. Rekomendasinya, masing-masing OPD melakukan kegiatan di lokasi yang tadi kita bahas. Agenda berikutnya adalah program kemiskinan di sektor perikanan kelautan dan sektor indutri/ perkotaan.

Begitulah, rapat di pemda Kabupaten Anbe tidak pernah lebih dari 30 menit. Kepala daerah sudah bergegas meninggalkan ruang rapat untuk kembali ke ruang kerjanya. 

Seorang wartawan yang sudah menunggu sejak tadi tampak  menyambut dan menodongkan mikrofon. "Ijin bertanya Pak. Banyak yang bilang, program pembangunan Bapak sangat akurat dan tepat sasaran. Bagaimana Bapak menyusun program-program pembangunan?". 

Kepala daerah menjawab, "Ini berkat basis data spasial kami sangat detail. Sistemnya juga handal, karena infrastruktur  IT -nya berkualitas." 

Wartawan kembali bertanya, "Butuh berapa tahun untuk membangun infrastruktur IT seperti itu, Pak? Dan pasti itu butuh biaya sangat besar, kan?" 

"Terus terang satu periode kepemimpinan saja tidak cukup. Kepala daerah sebelumnya telah menanam pondasi pembangunan daerah ini sangat bagus. Namanya pondasi, ya tidak semua orang tahu." Kepala daerah menghela nafas, "Banyak orang mengira, beliau tidak punya prestasi membanggakan. Tapi pondasi yang ini harus dibuat. Investasinya tidak hanya hardware, tapi juga software dan brainware. Ini investasi yang sangat besar."

"Tapi, Pak. Bukankah ini upaya yang kurang populis?" Tanya Wartawan penasaran. 

"Ya, Beliau sadar itu. Elektabilitasnya ambruk. Akhirnya Beliau mengurungkan niat untuk maju lagi. Ibarat menanam pohon, ada yang bisa dipanen dalam satu musim, 1 tahun, 5 tahun,  bahkan 10 tahun seperti Gaharu. Malah ada tanaman yang usia diatas 30 tahun baru bisa panen, seperti Cendana. Tidak semua tanaman bisa di panen dalam kurun waktu di bawah  5 tahun. Makanya kalau kepala daerah hanya berharap popularitas saja, Kabupaten Anbe tidak akan pernah memiliki pondasi yang kuat seperti ini."

Sang wartawan tampak terpesona dengan uraian yang panjang lebar dari kepala daerah. Dengan antusias, sang wartawan kembali bertanya, "Maaf Pak. Kabupaten Anbe ini sebenarnya singkatan apa ya, Pak?

Sambil tersenyum, kepala daerah menjawab, "Anbe itu sebenarnya singkatan dari Antah Berantah."

Sekian, wallahu a'lam bi showab.


 



 




 


 

Posting Komentar untuk "Sepenggal drama para pejabat dalam sebuah rapat"

Berlangganan via Email