Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aksi teror KKB di Papua adalah akibat pemanasan global

Situasi Papua tak kunjung membaik. Sejak tuntutan nama dari Irian Jaya menjadi Papua sudah dipenuhi oleh Presiden Gus Dur, isu Papua Merdeka bukannya mereda. Kali ini diawali oleh aksi-aksi sekelompok orang yang "dilabeli" KKB.  Bagaimana pemanasan global bisa berdampak pada isu Hankam?

Kita mulai dari Vanuatu. Sebuah negara yang dulu tidak pernah terdengar tapi belakangan menggemparkan karena selalu "menyerang" Indonesia di forum-forum PBB. Vanuatu mencari dukungan internasional agar Indonesia diadili karena pelanggaran HAM di Papua. Dan yang lebih menyakitkan lagi ia menyatakan, Vanuatu tak akan pernah berhenti sampai Papua meraih kemerdekaan.

Tak berselang lama, isu Papua Merdeka kembali mengemuka. Belum ada keterangan yang memastikan apakah Vanuatu berada dibalik ini semua atau dia hanya support moril atau materiil. Sejauh ini, senjata-senjata KKB yang berhasil disita adalah hasil rampasan di pos-pos aparat Indonesia. Artinya, dalam hal ini isu pemanasan global jelas berimplikasi terhadap konflik sosial secara tidak langsung. 

Aksi-aksi KKB ini dinilai banyak pihak sudah mengarah pada gerakan separatis. Namun sangat disesalkan, mengapa kelompok ini dilabeli "KKB" atau Kelompok Kriminal Bersenjata. Salah satu alasan adalah apabila kelompok ini dilabeli gerakan separatis, maka akan masuk ranah militer. Ketika wilayah ini sudah ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) maka dikhawatirkan mata dunia akan menyorot Indonesia yang berpotensi timbul kegaduhan. Isu-isu HAM akan semakin liar dan bisa jadi Timor Leste berulang. Dengan label KKB maka ini hanya masuk di wilayah kepolisian yang juga dimungkinkan TNI diperbantukan. 

Apa kepentingan Vanuatu terhadap Papua merdeka?

Pertama, Vanuatu dan Papua, berikut Papua Nugini dihuni oleh mayoritas ras yang sama, yaitu ras Melanesia sebagai penduduk asli (indigeneus people). Kesamaan ras ini memunculkan rasa kepedulian. 

Kedua, Vanuatu merasa terancam tenggelam karena wilayahnya adalah kepuluan yang kecil di samudera pasifik. Sementara air laut terus meningkat tiap tahun karena pemanasan global. Konon dataran paling tinggi hanya 2 meter diatas permukaan laut. Sangat pasti jika dihitung, kapan Vanuatu akan tenggelam total ketika air laut meningkat 1 cm/ tahun akibat pemanasan global. Belum lagi adanya berita-berita yang membuat ketar-ketir adalah satu demi satu gunung es di antartika pecah dan terseret gelombang laut. Ini akan mempercepat mereka untuk tenggelam. Harapan mereka jika suatu saat Vanuatu tenggelam, mereka bisa eksodus ke Papua berkumpul bersama "saudara-saudaranya". 

Hal ini dikemukakan oleh Dubes Selandia Baru, Tantowi Yahya. Selain Selandia Baru, wilayah kerja kedubes ini juga meliputi negara-negara sekitar di Samudra Pasifik sejumlah 20 negara. Negara-negara kepulauan ini juga bernasib sama jika wilayah mereka tenggelam. Namun tentunya Vanuatu merasa serumpun dengan Papua akan lebih memilih eksodus ke sana.


komunitas kiribati di facebook


Dampak pemanasan global kian hari kian mengkhawatirkan. Sebuah penelitian, kecepatan peningkatan tinggi muka air laut lebih cepat 5x lipat dari sebelumnya. Banyak negara sudah dalam kondisi kritis, kehilangan banyak wilayah, termasuk Indonesia. Puluhan pulau dan beberapa wilayah di Indonesia sudah tenggelam. Ibaratnya, mungkin Indonesia menganggap masih tenggelam semata kaki, sehingga belum merasa perlu untuk panik. Namun negara-negara kepulauan seperti di semudra pasifik dan juga di banyak wilayah lain sudah mulai menyalakan tanda bahaya. Mereka getol menyerukan perlawanan terhadap peningkatan pemanasan global. Negara-negara yang terancam tenggelam diantaranya yaitu ; Tuvalu, Kiribati, Samoa, Nauru, Kepulauan Solomon, Kepulauan Fiji, Kepulauan Marshall, dan Kepulauan Maldives (Maladewa).

Maldives? ya, jangan kaget bagi yang belum tercapai mimpinya traveling ke sana. Maldives sangat peduli dengan isu global warming karena wilayahnya di ujung tanduk. Negara yang berpenduduk 100 persen muslim itu hidup berkelimpahan dengan wisata bahari. Namun jika air laut terus meningkat, masa kejayaan itu memang harus berakhir. Semoga kita masih berkesempatan traveling ke sana. Amiin..

Namun, doa saja tidak cukup. Tentunya kita harus turut menjaga lingkungan agar pemanasan global tidak terus meningkat.

Wallahu a'lam bishowab..
 
Sekjen PBB: Antonio Gutteres
https://twitter.com/UN/status/1139307208154464257



Posting Komentar untuk "Aksi teror KKB di Papua adalah akibat pemanasan global"

Berlangganan via Email