Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Drone Mapping ketinggian 50 meter VS 100 meter


Uji coba drone mapping kali ini bertujuan membandingkan 2 metode mapping. Misi 1 dengan luas polygon 2,6 Ha dengan rencana ketinggian drone 50 meter. Misi 2 dengan luas polygon 10,4 Ha dengan ketinggian 100 Ha. Perlu kita ketahui, semakin tinggi drone akan mengcover target yang lebih luas sehingga dengan luas yang sama akan membutuhkan waktu lebih singkat. Konsekuensinya, semakin tinggi drone dalam mengambil foto, kualitasnya akan semakin turun.

Aspek waktu pengambilan foto drone menjadi pertimbangan utama, karena 1 baterai hanya mampu terbang selama 30 menit. Dengan cuaca yang cukup berangin, maka waktu yang dibutuhkan juga akan lebih besar. Asumsinya, performa baterai tidak lagi 100 persen maka uji coba kali ini menggunakan waktu terbang tidak lebih 10 menit.


Kualitas gambar hasil foto udara dikenal dengan Ground Sampling Distance (GSD). Sedangkan pada citra satelit dikenal dengan resolusi spasial. Sebagai perbandingan, drone DJI Phantom dengan ketinggian 50 meter dapat menghasilkan output gambar 1,36 cm/pixel. Sedangkan citra satelit Landsat-8  memiliki resolusi spasial 30 meter/ pixel. Artinya, hasil  pemetaan DJI Phantom lebih detail sekitar 2.200 kali. Bisa dimaklumi, citra satelit Landsat-8 bisa di download secara gratis. Namun jika dibandingkan salah satu citra satelit resolusi sangat tinggi, misalnya GeoEye memiliki resolusi 1,6 meter. Citra satelit GeoEye dijual per km2 dengan minimal order 25 km2 (2.500 Ha). Per km2 -nya, salah satu situs yang saya temui, membanderol harga 20 USD, atau sekitar Rp.300 ribu. Jadi minimal kita harus mengeluarkan kocek Rp. 7,5 juta.  Untuk lahan yang tersebar tentu akan lebih banyak anggaran sementara banyak spot adalah bukan sasaran yang akan dipetakan.

Pelaksanaan Drone Mapping

Sebagaimana pada artikel sebelumnya, karena keterbatasan DJI Phantom 4 pro, target pemetaan tidak bisa langsung dibuat di Pix4Dcapture karena basemap tidak bisa tampil. Untuk itu, perlu merancang dulu target pemetaan dengan google my map, karena Pix4Dcapture bisa mengimpor file KML. Lebih rinci, tahapan drone mapping adalah sebagai berikut: 

  1. Delienasi sasaran mapping menggunakan google MyMap.
  2. Export hasil delienasi dalam bentuk KML.
  3. Impor KML ke dalam Pix4Dcapture.
  4. Buat polygon target mapping sesuai peta KML yang tertera
  5. Pelaksanaan pengambilan foto dengan drone
  6. Pengolahan hasil pengambilan foto dari drone dengan Pix4DMapper.
  7. Output berupa file TIFF yang siap diolah di software GIS.





Sebagai gambaran perbandingan, misi 1 dan misi 2 adalah sebagai berikut:



Hasil operasi drone menunjukkan indikasi bahwa Misi 1 lebih banyak mengambil foto dari pada Misi 2.




Hasil drone mapping secara keseluruhan dapat direkap dalam matriks berikut ini:

No Uraian Misi 1 Misi 2
1 Cakupan (Ha) 4,88 19,32
2 Ketinggian (meter) 50 100
3 GSD (cm/px) 1,36 2,73
4 Jarak ditempuh (meter) 1.601 3.057
5 Waktu terbang 9min:46s 8min:54s
6 Jumlah foto (buah) 260 142
7 Besaran file Tiff (MB) 618 533

Meskipun Misi 1 area lebih kecil dari Misi 2, namun besaran file justru lebih besar. Ini menunjukkan kedetailan Misi 1 lebih tinggi dari Misi 2. Dari hasil uji coba juga menunjukkan, baterai drone masih terpakai sekitar 50% artinya, waktu terbang masih bisa ditambah lagi untuk uji coba selanjutnya.




Posting Komentar untuk "Drone Mapping ketinggian 50 meter VS 100 meter"

Berlangganan via Email