Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ittiba' Nabi dalam berpakaian

KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) memaparkan, dewasa ini umat Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban, dan memelihara jenggot. Mereka menyangka, kata dia, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba' (mengikuti jejak) Nabi Muhammad.

"Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional (Arab)," ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini.

Kiai kita ini menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya. Buktinya ia memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah.

"Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans," ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin, "Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik," ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam.

"Ini, ittiba' Kanjeng Nabi. Ya begini ini, bukan pake serban, berjenggot. Itu ittiba' Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya," tegasnya.

Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba' Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya. "Sekarang ini, nggak. Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek," pungkasnya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Posting Komentar untuk "Ittiba' Nabi dalam berpakaian"

Berlangganan via Email