Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TARUNA IKRAR: Obsesi Nobel Fisiologi

Taruna Ikrar menemukan sistem pencitraan dinamika pada otak manusia. Penemuan itu sudah dipatenkan. Ia juga sedang memimpin 20 project scientist. Berkiprah di Amerika Serikat karena lebih dihargai.


Sejak 2014 lalu, setidaknya setahun sekali, Dr. Taruna Ikrar MPharm, PhD, pulang ke Indonesia. Dokter dan ilmuwan bidang farmasi, jantung dan saraf yang menetap di Amerika Serikat ini mengajar di Departemen Biotechnology dan Neuroscience Surya University. Dalam setahun, ia mengajar dua kali jarak jauh dan sekali tatap muka.

''Saya terima tawaran ini untuk transfer knowledge. Sebagai jembatan penghubung Indonesia dan Amerika,'' kata Specialist di Departemen Anatomi dan Neurobiologi Universitas California, Irvine, Amerika Serikat, tersebut. Upaya itu, menurutnya, untuk mengaplikasikan ilmu yang ia miliki ke Surya University.

Sebagai ilmuwan, kiprah Taruna terbilang luar biasa. Temuannya bisa menggambarkan dinamika pada otak
manusia dengan metode pencitraan yang rinci dan berketajaman sangat tinggi. Ini merupakan gabungan dua sistem utama, yaitu voltage sensitive dye imaging (VSDI) dan laser photo stimulation (LSPS). ''Ini penting dalam perkembangan ilmu saraf modern,'' kata Taruna. Sebab otak manusia sangat kompleks, yang tersusun lebih dari 100 trilyun sel neuron.

Setiap satu selnya memiliki jaringan dengan 10.000 koneksi. ''Artinya, setiap otak diperkirakan punya jutaan trilyun konektivitas,'' kata pemimpin 20 project scientist di Universitas California ini.

Dua temuan Prof. Taruna Ikrar, ini dipatenkan oleh Pemerintah Amerika Serikat pada 2010. Kini, penelitiannya difokuskan pada investigasi fungsi otak manusia serta hubungannya dengan sirkuit otak dan berbagai jenis penyakit otak. Korelasinya dengan alzheimer, parkison, serta paralyses atau kelumpuhan. Hingga pada masalah ketergantungan narkotika dan psikotropika Taruna juga menemukan mekanisme penting hubungan antara tidur dan faktor histaminergik serta hormonal dalam proses tidur. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Physiology edisi 2014 ini menjelaskan peran melanin concentrating hormono (MCH) yang mengatur berbagai fungsi fisiologis yang berhubungan dengan regulasi tubuh.

''Tidur merupakan salah satu fungsi penting otak. Bila terganggu, akan mengakibatkan
masalah pada kesehatan dan kualitas hidup menyeluruh,'' ujarnya. Taruna merupakan satu dari 7.000
doktor, master, dan profesor yang tersebar sebagai diaspora dan berkarier di luar negeri. Pendiri Ikatan Ilmuwan Indonesia

Internasional ini menyebutnya sebagai fenomena brain drain. Di mana arus tujuan ilmuwan dan orang pintar dunia
bermigrasi ke negara lain. Ada banyak alasan, mereka lebih memilih mengabdi di negeri lain. Taruna menjelaskan, di antaranya, mereka merasa lebih dihargai. Selain itu, terbuka peluang besar untuk mengembangkan diri dan karier, dibekali fasilitas riset memadai dengan infrastruktur dan kebijakan mendukung untuk fokus bekerja. Penghasilan dan fasilitas pendukung untuk keluarga dan pendidikan anak pun sangat baik, kata suami dari Dr. Elfi Wardaningsih, PhD itu. Sementara itu, menurut Taruna, peran Pemerintah Indonesia dalam mendukung penelitian, saat ini, masih sangat formalitas. Tidak atas pertimbangan yang prinsip dan esensial. ''Terutama kekurangannya bisa dilihat dari support dana.

Meski demikian, Taruna menegaskan, bukan berarti nasionalisme para ilmuwan Indonesia di luar negeri itu diragukan. ''Jika suasana Tanah Air membutuhkan mereka. Demikian pula kesempatan bagi mereka berbuat banyak, pasti
mereka akan balik ke Indonesia,'' kata Wakil Ketua Luar Negeri I4-(Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) ini. ''Tentu kami sangat ingin balik dan berkontribusi dalam sains dan teknologi Tanah Air,'' ia menegaskan.

Menurut Taruna, Kementerian Riset dan Teknologi serta Perguruan Tinggi perlu memberikan dukungan pengembangan penelitian mulai dari hulu hingga hilir. Tidak hanya itu, pemerintah harus mempunyai political will dalam pengembangan penelitian. Langkah ini harus dilanjutkan dengan political action. Artinya, meningkatkan anggaran penelitian dan mendukung penelitian di perguruan tinggi dan lembaga peneliti Tanah Air.

Di balik keberhasilan Taruna, siapa yang sangka pria kelahiran Makassar, 15 April 1969 itu tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Desa Sirinjala, Kabupaten Gowa, Sulawesi. Ia berasal dari keluarga sederhana. Namun, putra pasangan Abubakar (almarhum) dan Hasnah Lamawi ini memiliki kesungguhan dalam mewujudkan cita-citanya. ''Sejak kecil saya sangat haus akan ilmu pengetahun,'' katanya.

Setelah lulus sebagai dokter umum dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 1997 silam, Taruna melanjutkan ke Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ketika itu, ia mulai terlibat dalam penelitian
obat-obat jantung di Harapan Kita. Kemudian ia mendapatkan beasiswa Mombukagakusho, beasiswa bergengsi
dari Pemerintah Jepang.

Menimba ilmu di Jepang merupakan pengalaman berharga buat Taruna. ''Orang Jepang sangat bangga atas profesi yang mereka geluti,'' ujarnya. Ini berlaku mulai dari tingkat profesor, dokter, hingga petugas cleaning service dan tukang sampah sekalipun. Dan, yang paling menarik, Taruna menceritakan tentang supervisornya di Jepang yang sangat menghargai sesederhana apa pun ide yang disampaikan seseorang. ''Biasanya dari ide sederhana dan aplikatif bisa menjadi bermanfaat dikemudian hari,'' ungkap doktor cardiology medicine dari Universitas Niigata, Jepang,
2008, itu.

Setelah mendapat gelar PhD, Taruna kemudian mendapat felowship grant dari National Institute of Health Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam itulah, ia melanjutkan pendidikan postdoctoral di Department of Interdisciplinary of Neurosciences. Juga menyelesaikan ujian residensinya di University of California, Medical Center.

Taruna akhirnya memutuskan menetap di Amerika setelah ia diangkat sebagai staf pengajar di University of California pada 2010. Universitas negeri terbesar di Amerika Serikat ini memiliki prestasi sebagai penyumbang Nobel Prize Winner terbanyak dengan 61 pemenang. ''Harapannya, tim kami suatu saat bisa memenangkan Nobel Prize bidang physiology kedokteran,'' katanya optimistis.

GATRA 20- 26 AGUSTUS 2015, Vol. 40


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Posting Komentar untuk "TARUNA IKRAR: Obsesi Nobel Fisiologi"

Berlangganan via Email