Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bencana banjir, sudah berapa jauh upaya kita untuk mengatasinya?



Memasuki tahun 2021,  negeri ini dirundung duka dengan berbagai bencana yang beruntun. Pandemi covid yang belum juga reda, kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ-182, banjir, gempa, dan gunung meletus. Kalau ini dipandang sebagai musibah dari Sang Pencipta, maka selesai sudah diskusi ini. Yang tersisa hanya lah tangis dan ratapan para korban dan keluarganya dan kerja keras para sukarelawan. Tak ada hikmah apapun kecuali evaluasi kinerja sukarelawan, yang kelak akan menangani bencana lebih baik lagi. Fenomena climate change dan La Nina bisa dijadikan kambing hitam, pejabat pun bisa cuci tangan. 

Manusia adalah makhluk berakal. Dengan kemampuan akalnya, dia bisa melakukan nyaris apapun yang dia mau. Manusia bisa terbang dengan pesawat terbang, berjalan dibawah tanah dan bawah laut melalui terowongan, memetakan setiap jengkal bumi ini, bulan, bahkan planet mars. Tak ada satupun manusia yang menginginkan terjadi bencana. Dengan kemampuan akalnya, semua bencana tentu bisa dicegah atau setidaknya diminimalisasi resiko yang terburuk, yaitu jatuhnya korban jiwa. Untuk itu, penyebab kejadian bencana perlu dikaji mendalam. Upaya selanjutnya adalah mengatasi akar permasalahan sehingga bencana yang sama tidak terulang, apalagi penyebabnya masih sama. Hal lain adalah langkah antisipasi jatuhnya korban jiwa dengan sistem peringatan dini.

Bencana banjir, cerita lama yang terus berulang
Rusaknya hutan lindung sebagai reservoir air, alih fungsi tata guna lahan, dan masalah sampah, sudah banyak sekali dibahas, malah sudah ada di kurikulum sekolah, mulai dari SD. Tapi anehnya, pelanggaran-pelanggaran itu terus terjadi. Pelakunya bahkan para kaum elit yang tentunya dulu sudah kenyang dengan bangku sekolah. Sinergi para kaum elit ini terdiri dari oknum pengusaha, pemerintah, dan kadang di dukung oleh (diamnya) kaum akademisi. 

Tidak perlu menunggu terjadi banjir puluhan kali, potensi terjadi banjir sebenarnya bisa dikalkulasi. Air yang ber-siklus hidrologi, jumlahnya relatif tetap. Faktor anomali iklim dan fenomena La Nina pun bisa dihitung melalui beberapa pendekatan. Teknologi canggih turut mendukung upaya ini, misalnya pemanfaatan satelit observasi bumi dan satelit cuaca. Masih kurang detail? Pemetaan bisa dilakukan dengan drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Pendek kata, banyak pilihan tools untuk menangani banjir rutin ini. Tapi, sudahkah diupayakan maksimal penanganannya? Apakah menghentikan berulangnya bencana ini masih belum masuk program prioritas? 

Jika ingin menyudahi terjadinya bencana ini terus berulang, pertama yang dilakukan adalah membenahi moralitas manusianya. Bencana moral adalah awal dari kerusakan alam sehingga menimbulkan bencana alam. Pendidikan saja tidak cukup, apalagi sistem pendidikannya pun sudah berorientasi ekonomi kapitalis. Jika semua orang mendahulukan kepentingan pribadi dan mengeksploitasi alam sebebas-bebasnya, maka program pembangunan "seindah" apapun hanyalah fatamorgana.
 
Sejatinya, kita tidak hanya sedang ditimpa bencana alam, tapi juga bencana moral. Lebih parah lagi, bencana moral ini sudah melanda kaum intelektual. Mereka punya akal tapi untuk mengakali agar tujuan busuknya itu tercapai. Mereka punya otak tapi malah menjadi otak eksploitasi alam secara massif.

Posting Komentar untuk "Bencana banjir, sudah berapa jauh upaya kita untuk mengatasinya? "

Berlangganan via Email