Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Resensi Buku: Membunuh Indonesia

WARNING! Ini bukan tentang kampanye pro rokok. Ini adalah tentang perang dagang yang salah satunya adalah pasar rokok kretek. Dengan pola yang mirip, ini juga menimpa sederet komoditas lain yang senasib, yaitu ;  gula, garam, minyak goreng, jamu, dan lain-lain..

Lebih baik mengetahui fakta meski menyakitkan, dari pada terus menerus dibuai ilusi dan mimpi yang indah. Buku ini seakan mempertontonkan fakta menyakitkan yang sulit dibantah. Sebagai anak bangsa tentu mendambakan negeri yang makmur sejahtera. Bukan  hanya untuk beberapa gelintir kaum elit saja, tapi rakyat kecil juga turut menikmati kekayaan negeri ini. 

Namun, untuk mewujudkan mimpi itu butuh keberpihakan  para pemimpin negeri ini. Selain keberpihakan juga butuh didukung dengan kekuatan, baik fisik (pertahanan dan keamanan) dan non fisik (intelejen dan diplomasi). Tugas pemerintah adalah "melindungi segenap bangsa Indonesia", baik ancaman dari dalam maupun dari luar.

Mungkin ini waktu yang tepat untuk merenung, benarkah kita sudah merdeka? Benarkah rakyat negeri ini berdaulat? Benarkah roda pembangunan sedang menuju ke masyarakat adil makmur? 

Jaman penjajahan kolonial memang sudah lewat, tapi bukan berarti kisah angkara murka manusia juga tamat.  Di era yang  katanya berperadaban tinggi ini, perang fisik bersenjata memang tidak lagi dipandang lumrah. Tak ada lagi penyusunan rencana dari negara-negara maju untuk menginvasi negara-negara kecil. Tak ada alokasi anggaran untuk menguasai dan menguras sumber daya alam dan manusia di negara tetangga. Yang ada sekarang adalah perang dagang dan neokolonialisme. 

Mungkin masih banyak yang belum menyadari bahwa perang dagang tak kalah sadisnya dengan perang fisik. Korban yang jatuh memang tidak sedramatis perang fisik, mayat bergelimpangan atau berdarah-darah. Korban perang dagang matinya pelan-pelan. Mati karena kelaparan, saling bunuh karena berebut makanan dengan saudaranya sendiri, konflik dengan aparat penegak hukum, atau mati dalam hidup karena telah menjual dirinya. 

Kisah-kisah tragis akibat perang dagang memang tidak detail dibahas dalam buku ini. Tapi bagi kita sudah cukup untuk menggambarkan,  bagaimana daerah yang dulu sangat ramai, sibuk dan tak pernah tidur, kemudian berubah menjadi kota mati. Hanya bangunan pabrik dan gedung tua yang menjadi saksi sejarah masa keemasan. 

Konspirasi penghancuran usaha dagang berbagai komoditi andalan di negeri ini sulit dipungkiri. Modusnya mirip-mirip, salah satunya isu kesehatan.  Gerakannya sangat sistematis, mulai dari pintu kantor para legislator hingga  eksekutor. Dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah. Belum berhenti di situ, para pemain pasar kemudian terjun ke gelanggang dan berkoalisi dengan para petugas untuk mempercepat dan menusuk jantung pertahanan. 

Bagi yang bersinggungan atau bergerak di bidang tembakau, ada baiknya memahami detail buku ini. Sebagai gambaran untuk membeli yang asli, bisa  klik disini

Keterangan:
Besar file = 3 MB
Jumlah halaman = 175 halaman
Tahun penerbitan = 2011



Bagaimana dengan daerah sentra tembakau?
Seperti kita ketahui, Jember, Temanggung, Deli, dan sebagainya adalah daerah sentra tembakau. Jember juga terkenal sebagai penghasil "emas hijau" bahkan simbol pemerintah daerahnya adalah daun tembakau. Suka tidak suka, sangat terdampak. Namun khusus Jember, dampak dari perang dagang tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan, "emas hijau" di Jember lebih banyak bermain di tembakau cerutu. Sebelumnya hanya ada dua daerah di Indonesia yang punya tembakau cerutu unggulan, yaitu Jember dan Deli. Namun, saat ini Jember satu-satunya daerah penghasil cerutu yang berkelas internasional.

Wallahu a'lam bi showab..


Posting Komentar untuk "Resensi Buku: Membunuh Indonesia"

Berlangganan via Email